RIAU MERDEKA / Budaya / 'Dalihan Na Tolu' Optimalisasi Wisata Danau Toba

Ketua DPC PPWI Kabupaten Tobasa:
'Dalihan Na Tolu' Optimalisasi Wisata Danau Toba

Budaya - Redaksi |
Jumat, 27/09/2019 - 13:13:40 WIB
RIAU MERDEKA - Dalam rangka mengoptimalisasi percepatan Parawisata Danau Toba, Kearifan lokal melalui khasanah budaya Batak dinilai memiliki peran penting mendukung program pemerintah yang saat ini tengah gencar dilaksanakan. Demikian disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Pewarta Warga Indonesian (DPC-PPWI) Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara Drs. Alboin Aluar Bilson Hutagaol, Jumat, (27/9/2019). 

Sejalan dengan itu, Dewan Pengurus Pusat Parsadaan Raja Toga Sitompul (PRTS) melaksanakan Seminar Nasional dan Silaturahmi Tokoh Batak Nasional. Kegiatan tersebut mengangkat tema 'Optimalisasi Budaya Dalihan Na Tolu Dalam Rangka Mendukung Percepatan Destinasi Kawasan Wisata Danau Toba' di Tarutung, (29/8/2019) bulan lalu.

Seminar dan Silaturahmi tokoh Nasional tersebut dihadiri Ketua Umum PRTS Jhonny FP. Sitompul, Bupati Kabupaten Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan,M.Si. Selain itu  turut hadir sejumlah narasumber antara lain, Ketua Umum DPN Gapenta Brigjen (Purn) Parasian Simanungkalit, Tokoh Dalihan Na Tolu Drs. Henry P. Pangabean,SH.MS, dan Ketua Umum JBMI H. Albiner Sitompul,S,IP

Menurut Drs. Alboin Aluar Bilson Hutagaol, "Dalihan Na Tolu" adalah sistim kekerabatan adat Batak yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat Batak sehari hari. Hubungan antara satu marga  disebut  (Dongan Tubu), Hubungan  keluarga mertua  disebut (Hula-Hula) sedangkan hubungan antara anak perempuan dengan orang tuanya disebut (Boru).
Filosofi dari Dalihan Na Tolu adalah mengatur tatanan atau fungsi serta posisi untuk dapat menyesuaikan diri atau posisi sebagaimana untuk saling menghargai , menghormati di kehidupan sehari-hari.

Dongan Tubu semestinya harus saling menghargai dan saling menghormati satu dengan yang lain, Sedangkan semarga dapat pula memberikan tugas atau perintah terhadap Boru untuk melakukan sebuah  kegiatan atau upacara ritual dalam adat istiadat. Sedangkan (Hula Hula) wajib dihormati ,disegani dan dipatuhi oleh pihak menantu (Boru) karena hula hula  memberi berkat melalui doa yang terucap dari mulut maupun batin. Dalam istilah peribahasa Batak disebut, (Manat Mardongan Tubu, Somba Marhula Hula, Elek Marboru).

Dalihan Na Tolu dinilai memiliki makna dan relevan terhadap Pancasila dan undang-undang dasar 1945.  Dengan demikian, Tamu  atau wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke wilayah  Danau Toba berwisata seyogyanya dianggap sebagai Hula hula yang harus dihormati dan disayangi. Karena mereka membawa rejeki dan berkat yang melimpah buat warga sekitar Danau Toba. "Hal ini akan membuat wisata Danau Toba bisa lebih maju bila Dalihan Na Tolu diterapkan, "Ungkap H. Albiner Sitompul,S.IP.M.AP di Partungkoan  Tarutung, Sabtu, (29/8/2019).

Seminar dan silaturahmi itu dihadiri oleh sejumlah tokoh adat setiap Kabupaten yang terdapat disekeliling Danau Toba, Bahkan dari Jambi diwakili oleh Sutan Raja Mataniari Tampubolon dan perwakilan dari Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura). 

Penulis : Drs. Alboin Aluar Bilson Hutagaol
Editor   : Palasroha Tampubolon










Komentar Anda :
 
Redaksi | Info Iklan
Copyright 2012 cv. PARADIGMA MEDIA MERDEKA (PMM), All Rights Reserved